Warung Bebas
Showing posts with label ASKEP. Show all posts
Showing posts with label ASKEP. Show all posts

Sunday, 1 April 2012

Askep Pasien Dengan Hepatitis

Askep Pasien Dengan Hepatitis.Setelah kemarin kita belajar mengenai hepatitis ditinjau dari segi medis, maka sesuai dengan bidang profesinya maka kita akan review dan belajar kembali mengenai askep pasien dengan hepatitis ditinjau dari segi keperawatannya di Sehat Kita Semua.Dan semoga askep hepatitis ini bermanfaat.

A. Pengkajian.
1. Keluhan Utama : Biasanya pasien hepatitis datang dengan membawa keluhan seperti :
  • Tiba-tiba tidak nafsu makan
  • Demam (lebih sering pada HVA)
  • Rasa pegal linu dan sakit kepala pada HVB
  • Malaise
2. Pengkajian Kesehatan
  • Aktifitas meliputi : Kelemahan,kelelahan,malaise
  • Sirkulasi meliputi : Bradikardi (hiperbilirubin berat),Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa
  • Eliminasi meliputi : Urine gelap,diare,faeses terlihat seperti warna tanah liat.
  • Makanan dan Cairan meliputi : Anoreksia,berat badan menurun,mual dan muntah,oedema meningkat,asites
  • Neurosensori meliputi : Peka terhadap rangsang, cenderung tidur, letargi,asteriksis
  • Nyeri / Kenyamanan meliputi : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan, sakit kepala,atralgia,mialgia, gatal (pruritus).
  • Seksualitas meliputi : Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan
B. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
  1. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik: anoreksia, mual / muntah dan gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan: penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
  2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
  3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi paru dan akumulasi sekret.

askep hepatitis,askep pasien hepatitis,Sehat Kita Semua

C. Intervensi
1. Diagnosa Keperawatan Pertama : Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik: anoreksia, mual/muntah dan gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan: penurunan peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
Kriteria Hasil :
  • Pasien akan menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan / mempertahankan berat badan yang sesuai.
  • Pasien akan menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium dan bebas tanda malnutrisi.
Intervensi :
  1. Awasi pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makan sedikit dalam frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar.
  2. Berikan perawatan mulut sebelum makan.
  3. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
  4. Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permen berat sepanjang hari.
  5. Konsultasikan pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien, dengan masukan lemak dan protein sesuai toleransi.
  6. Awasi glukosa darah.
  7. Kolaborasi Medis
2. Diagnosa Keperawatan Kedua : Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
Kriteria Hasil :
  • Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)
Intervensi :
  1. Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri.
  2. Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap nyeri
  • Akui adanya nyeri
  • Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya.
  • Berikan informasi akurat dan jelaskan penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui.
  • Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi.
3. Diagnosa Keperawatan Ketiga : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi paru dan akumulasi sekret.
Kriteria Hasil :
  • Pola nafas adekuat
Intervensi :
  • Awasi frekwensi , kedalaman dan upaya pernafasan
  • Auskultasi bunyi nafas tambahan
  • Berikan posisi semi fowler
  • Berikan latihan nafas dalam dan batuk efektif
  • Berikan oksigen sesuai kebutuhan
Demikan tadi sahabat mengenai askep pasien dengan hepatitis di sehat kita semua ini dan semoga bermanfaat.

Tuesday, 27 March 2012

Askep Pasien Dengan Malaria

Askep Pasien Dengan Malaria.Setelah kemarin kita belajar mengenai malaria ditinjau dari segi medisnya, maka kali ini Sehat Kita Semua akan berbagi kembali mengenai askep pasien malaria dan semoga askep malaria ini bermanfaat sobat semua.

A. Pengkajian
1. Aktivitas/ istirahat
  • Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum
  • Tanda : Takikardi, Kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
2. Sirkulasi
  • Tanda : Tekanan darah normal atau sedikit menurun. Denyut perifer kuat dan cepat (fase demam) Kulit hangat, diuresis (diaphoresis ) karena vasodilatasi. Pucat dan lembab (vaso kontriksi), hipovolemia,penurunan aliran darah.
3. Eliminasi
  • Gejala : Diare atau konstipasi; penurunan haluaran urine
  • Tanda : Distensi abdomen
4. Makanan dan cairan
  • Gejala : Anoreksia mual dan muntah
  • Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan Penurunan masa otot. Penurunan haluaran urine, kosentrasi urine.
5. Neuro sensori
  • Gejala : Sakit kepala, pusing dan pingsan.
  • Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientas deliriu atau koma.
6. Pernapasan.
  • Tanda : Tackipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan .
  • Gejala : Napas pendek pada istirahat dan aktivitas
7. Penyuluhan/ pembelajaran
  • Gejala : Masalah kesehatan kronis, misalnya hati, ginjal, keracunan alkohol, riwayat splenektomi, baru saja menjalani operasi / prosedur invasif, luka traumatik.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada pasien dengan malaria berdasarkan dari tanda dan gejala yang timbul dapat diuraikan seperti dibawah ini (Doengoes, Moorhouse dan Geissler, 1999); Beberapa diagnosa askep pasien malaria yaitu :
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makanan yang tidak sdekuat ; anorexia; mual/muntah
  2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan penurunan sistem kekebalan tubuh; prosedur tindakan invasif
  3. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
  4. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh.
  5. Kurang pengetahuan, mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/ mengingat kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
askep malaria, askep pasien malaria, Sehat Kita Semua
C. Intervensi Keperawatan
Rencana keperawatan malaria berdasarkan masing-masing diagnosa keperawatan diatas adalah
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makanan yang tidak adekuat; anorexia; mual / muntah .
Tindakan/ Intervensi :
  • Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai. Observasi dan catat masukan makanan klien. Rasional : mengawasi masukan kalori atau kualitas kekeurangan konsumsi makanan.
  • Berikan makan sedikit dan makanan tambahan kecil yang tepat. Rasional : Dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat setelah periode anoreksia
  • Pertahankan jadwal penimbangan berat badan secara teratur. Rasional : Mengawasi penurunan berat badan atau efektifitas nitervensi nutrisi
  • Diskusikan yang disukai klien dan masukan dalam diet murni. Rasional : Dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa berpartisipasi/ kontrol
  • Observasi dan catat kejadian mual / muntah, dan gejala lain yang berhubungan. Rasional : Gejala GI dapat menunjukan efek anemia (hipoksia) pada organ
  • Kolaborasi untuk melakukan rujukan ke ahli gizi. Rasional : Perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi kebutuhan nutrisi.
2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan penurunan sistem tubuh (pertahanan utama tidak adekuat), prosedur invasif.
Tindakan/ Intervensi :
  • Pantau terhadap kecenderungan peningkatan suhu tubuh. Rasional : Demam disebabkan oleh efek endoktoksin pada hipotalamus dan hipotermia adalah tanda tanda penting yang merefleksikan perkembangan status syok/ penurunan perfusi jaringan.
  • Amati adanya menggigil dan diaforosis. Rasional : Menggigil sering kali mendahului memuncaknya suhu pada infeksi umum.
  • Memantau tanda - tanda penyimpangan kondisi / kegagalan untuk memperbaiki selama masa terapi. Rasional : Dapat menunjukkan ketidak tepatan terapi antibiotik atau pertumbuhan dari organisme.
  • Berikan obat anti infeksi sesuai petunjuk. Rasional : Dapat membasmi/ memberikan imunitas sementara untuk infeksi umum
  • Dapatkan spisemen darah. Rasional : Identifikasi terhadap penyebab jenis infeksi malaria
3. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme dehirasi efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
Tindakan/ intervensi :
  • Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan menggigil. Rasional : Hipertermi menunjukan proses penyakit infeksius akut. Pola demam menunjukkan diagnosis.
  • Pantau suhu lingkungan. Rasional : Suhu ruangan / jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
  • Berikan kompres mandi hangat, hindari penggunaan alkohol. Rasional : Dapat membantu mengurangi demam, penggunaan es/alkohol mungkin menyebabkan kedinginan. Selain itu alkohol dapat mengeringkan kulit.
  • Berikan antipiretik. Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.
  • Berikan selimut pendingin. Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan hipertermi.
4. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh
Tindakan/ intervensi :
  • Pertahankan tirah baring bantu dengan aktivitas perawatan. Rasional : Menurunkan beban kerja miokard dan konsumsi oksigen, memaksimalkan efektifitas dari perfusi jaringan.
  • Pantau terhadap kecenderungan tekanan darah, mencatat perkembangan hipotensi dan perubahan pada tekanan nadi. Rasional : Hipotensi akan berkembang bersamaan dengan kuman yang menyerang darah.
  • Perhatikan kualitas, kekuatan dari denyut perifer. Rasional : Pada awal nadi cepat kuat karena peningkatan curah jantung, nadi dapat lemah atau lambat karena hipotensi yang terus menerus, penurunan curah jantung dan vaso kontriksi perifer.
  • Kaji frukuensi pernafasan kedalaman dan kualitas. Perhatikan dispnea berat. Rasional : Peningkatan pernafasan terjadi sebagai respon terhadap efek-efek langsung dari kuman pada pusat pernafasan. Pernafasan menjadi dangkal bila terjadi insufisiensi pernafasan, menimbulkan resiko kegagalan pernafasan akut.
  • Berikan cairan parenteral. Rasional : Untuk mempertahankan perfusi jaringan, sejumlah besar cairan mungkin dibutuhkan untuk mendukung volume sirkulasi.
  • Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/ mengingat kesalahasn interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
5. Kurang pengetahuan, mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan / mengingat kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
Tindakan/ intervensi:
  • Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan. Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan.
  • Berikan informasi mengenai terapi obat - obatan, interaksi obat, efek samping dan ketaatan terhadap program. Rasional : Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam penyembuhan dan mengurangi kambuhnya komplikasi.
  • Diskusikan kebutuhan untuk pemasukan nutrisional yang tepat dan seimbang. Rasional : Perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan umum.
  • Dorong periode istirahat dan aktivitas yang terjadwal. Rasional : Mencegah pemenatan, penghematan energi dan meningkatkan penyembuhan.
  • • Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan. Rasional : Membantu mengontrol pemajanan lingkungan dengan mengurangi jumlah penyebab penyakit yang ada.
  • • Identifikasi tanda dan gejala yang membutuhkan evaluasi medis. Rasional : Pengenalan dini dari perkembangan / kambuhnya infeksi.
  • • Tekankan pentingnya terapi antibiotik sesuai kebutuhan. Rasional : Penggunaan terhadap pencegahan terhadap infeksi.
Demikian tadi sobat mengenai askep pasien malaria dan semoga bermanfaat.

Saturday, 10 March 2012

Askep DHF / Demam Berdarah

Askep DHF / Demam Berdarah.Setelah kemarin kita belajar mengenai fase demam berdarah maka kali ini kita akan berbagi mengenai demam berdarah ditinjau dari asuhan keperawatan yaitu askep DHF dan semoga artikel askep demam berdarah pada anak ini bermanfaat.

Pengkajian
  • Kaji riwayat Keperawatan
  • Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda perdarahan , mual muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hai, nyeri otot dan tanda – tanda renjatan ( denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran )
Diagnose Keperawatan
  1. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler , perdarahan, muntah, dan demam
  2. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan
  3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan
  4. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksivirus
  5. Perubahan proses proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak

Askep DHF / Demam Berdarah,askep demam berdarah, Sehat Kita Semua

Perencanaan :
  • Anak menunjukkan tanda – tanda terpenuhinya kebutuhan cairan
  • Anak menunjukkan tanda – tanda perfusi jaringan perifer yang adekwat
  • Anak menunjukkan tanda – tanda vital dalam batas normal
  • Keluarga menunjukkan kekoping yang adaptif
Implementasi :
1. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan
  • - Mengobservasi tanda – tanda vital paling sedikit setiap 4 jam
  • Monitor tanda – tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun ubun cekung, produksi urin menurun
  • Mengobservasi dan mencatat intake dan output
  • Memberikan hidrasi yang adekwat sesuai dengan kebutuhan tubuh
  • Memonitor nilai laboratorium : elektrolit / darah BJ urin , serum tubuh
  • Mempertahankan intake dan output yang adekwat
  • Memonitor dan mencatat berat badan
  • Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam
  • Mengurangi kehilangan cairan yang tidak telihat ( insesible water loss / IWL )
2. Perfusi jaringan Adekuat
  • Mengkaji dan mencatat tanda – tanda Vital ( kualitas dan Frekwensi denyut nadi, tekanan darah , Cappilary Refill )
  • Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ektremitas ( suhu , kelembaban dan warna )
  • Menilai kemungkinan terjadinya kematian aringan pada ekstremitas seperti dingin , nyeri, pembengkakan kaki )
3. Kebutuhan nutrisi adekuat
  • Ijinkan anak memakan makanan yang dapat ditoleransi anak. Rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
  • Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
  • Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering
  • Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama
  • Mempertahankan kebersihan mulut pasien
  • Menjelaskan pentingnya intake nutirisi yang adekwat untuk penyembuhan penyakit
4. Mempertahankan suhu tubuh normal
  • Ukur tanda – tanda vital suhu tubuh
  • Ajarkan keluarga dalam pengukuran suhu
  • Lakukan “ tepid sponge” ( seka ) dengan air biasa
  • Tingkatkan intake cairan
  • Berikan terapi untuk menurunkan suhu
5. Mensupport koping keluarga Adaptif
  • Mengkaji perasaan dan persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap situasi yang penuh stress
  • Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang lebar dan identifikasi faktor yang paling mencmaskan keluarga
  • Identifikasikan koping yang biasa digunakan dan seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan

Demikian tadi sobat mengenai askep DHF dan semoga artikel askep demam berdarah / DHF pada anak ini bermanfaat

Tuesday, 6 December 2011

Pengertian Diagnosa Keperawatan

Pengertian Diagnosa Keperawatan
Postingan terakhir kita adalah mengenai penyebab asi tidak keluar maka malam hari ini akan membicarakan mengenai pengertian diagnosa keperawatan dan semoga postingan ini bermanfaat sobat semuanya

Diagnosa keperawatan adalah suatu bagian integral dari proses keperawatan. Hal ini merupakan suatu komponen dari langkah-langkah analisa, dimana perawat mengidentifikasi respon-respon individu terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual dan potensial. Di beberapa negara mendiagnosa diidentifikasikan dalam tindakan praktik keperawatan sebagai suatu tanggung jawab legal dari seorang perawat profesional. Diagnosa keperawatan memberikan dasar petunjuk untuk memberikan terapi yang pasti dimana perawat bertanggung jawab di dalamnya
( Kim et al, 1984).

Jadi pengertian diagnosa keperawatan diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien
(Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA).

Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosa keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat.

Diagnosa keperawatan, sebagai suatu bagian dari proses keperawatan juga direfleksikan dalam standar praktik ANA. Standar-standar ini memberikan satu dasar luas mengevaluasi praktik dan merefleksikan pengakuan hak-hak manusia yang menerima asuhan keperawatan.
( ANA, 1980).


pengertian diagnosa keperawatan, diagnosa keperawatan, sehat kita semua, artikel keperawatan

Proses keperawatan telah diidentikan sebagai metoda ilmiah keperawatan untuk para penerima tindakan keperawatan disajikan sesuai dengan lima langkah dari proses keperawatan :
  1. Pengkajian. Menetapkan data dasar seorang klien
  2. Analisa. Identifikasi kebutuhan perawatan klien dan seleksi tujuan perawatan
  3. Perencanaan. Merencanakan suatu strategi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan untuk perawatan klien.
  4. Implementasi. Memulai dan melengkapi tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan
  5. Evaluasi. Menentukan seberapa jauh tujuan-tujuan keperawatan yang telah dicapai.

Dengan mengikuti kelima langkah ini, perawat akan memiliki suatu kerangka kerja yang sistematis untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.


Komponen Diagnosa Keperawatan

Ada tiga komponen yang esensial dalam suatu diagnosa keperawatan yang telah dirujuk sebagai bentuk PES
( Gordon, 1987 ).
“ P “ diidentifikasi sebagai masalah / problem kesehatan, “E” menunjukan etiologi / penyebab dari problem, dan “S” menggambarkan sekelompok tanda dan gejala, atau apa yang dikenal sebagai “ batasan karakteristik” ketiga bagian ini dipadukan dalam suatu pernyataan dengan menggunakan “ yang berhubungan dengan ”.

Kemudian diagnosa-diagnosa tersebut dituliskan dengan cara berikut : Problem “ yang berhubungan dengan “ etiologi” dibuktikan oleh “ tanda-tanda dan gejala-gejala ( batasan karakteristik ).

Problem dapat diidentifikasikan sebagai respons manusia terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual atau potensial sesuai dengan data-data yang didapat dari pengkajian yang dilakukan oleh perawat.

Etiologi ditunjukan melalui pengalaman-pengalaman individu yang telah lalu, pengaruh genetika, faktor-faktor lingkungan yang ada saat ini, atau perubahan-perubahan patofisiologis. Tanda dan gejala menggambarkan apa yang klien katakan dan apa yang diobservasi oleh perawat yang mengidentifikasikan adanya masalah tertentu.


Informasi yang ditampilkan pada setiap diagnosa keperawatan mencakup hal-hal berikut :
  • Defenisi. Merujuk kepada defenisi NANDA yang digunakan pada diagnosa –diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan tersebut.
  • Kemungkinan Etiologi (“yang berhubungan dengan”). Bagian ini menyatakan penyebab-penyebab yang mungkin untuk masalah yang telah diidentifikasi. Yang tidak dinyakatakan oleh NANDA diberi tanda kurung [ ]. Faktor yang berhubungan / risiko diberikan untuk diagnosa yang beresiko tinggi.
  • Batasan karakteristik (“dibuktikan oleh”). Bagian ini mencakup tanda dan gejala yang cukup jelas untuk mengindikasi keberadaan suatu masalah. Sekali lagi seperti pada definisi dan etiologi. Yang tidak dinyatakan oleh NANDA diberi tanda kurung [ ].
  • Sasaran / Tujuan. Pernyataan –pernyataan ini ditulis sesuai dengan objektif perilaku klien. Sasaran / tujuan ini harus dapat diukur, merupakan tujuan jangka panjang dan pendek, untuk digunakan dalam mengevaluasi keefektifan intervensi keperawatan dalam mengatasi masalah yang telah diidentifikasi. Mungkin akan ada lebih dari satu tujuan jangka pendek, dan mungkin merupakan “batu loncatan” untuk memenuhi tujuan jangka panjang.
  • Intervensi dengan Rasional Tertentu. Hanya intervensi-intervensi yang sesuai untuk bagian diagnosa yang ditampilkan. Rasional-rasional yang digunakan untuk intervensi mencakup memberikan klarifikasi pengetahuan keperawatan dasar dan untuk membantu dalam menyeleksi intervensi-intervensi yang sesuai untuk diri klien.
  • Hasil Klien yang Diharapkan / Kriteria Pulang. Perubahan perilaku sesuai dengan kesiapan klien untuk pulang yang mungkin untuk dievaluasi.
  • Informasi Obat – obatan. Informasi ini mencakup implikasi keperawatan, menyertai bab-bab yang mana tiap klarifikasinya sesuai.

Demikian yang sedikit sobat dan terima kasih telah membaca artikel pengertian diagnosa keperawatan. Semoga artikel pengertian diagnosa keperawatan ini bisa berguna serta bermanfaat.

Tuesday, 15 November 2011

AsKep Gagal Jantung Kongestif / CHF

AsKep Gagal Jantung Kongestif / CHF.Setelah memposting tentang Page Rank Google Update maka kita kembali kepada postingan tentang asuhan keperawatan lagi ya sobat yaitu AsKep Gagal Jantung Kongestif / CHF .Masih sekitar permasalahan penyakit jantung juga kok sob.Silakan menyimak sahabat Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Gagal Jantung Kongestif / CHF


A. Pengertian
Gagal jantung kongestif adalah keadaan dimana jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi badan untuk keperluan metabolisme jaringan tubuh pada keadaan tertentu,sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi.


B. Patofisiologi
Setiap hambatan pada aliran ( forward flow ) dalam sirkulasi akan menimbulkan bendungan pada arah berlawanan dengan aliran ( backward congestion ).Hambatan pengaliran ( forward failure ) akan menimbulkan adanya gejala backward failure dalam sirkulasi aliran darah.Mekanisme kompensasi jantung pada kegagalan jantung adalah upaya untuk mempertahankan peredaran darah dalam memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan.

Mekanisme kompensasi yang terjadi pada gagal jantung adalah : dilatasi ventrikel, hipertrofi ventrikel, kenaikan rangsang simpatis berupa takikardi dan vasokontriksi perifer, peninggian kadar katekolamin plasma, retensi garam dan cairan badan dan peningkatan ekstraksi oksigen oleh jaringan.Bila jantung bagian kanan dan bagian kiri bersama-sama dalam keadaan gagal akibat gangguan aliran darah dan adanya bendungan,maka akan tampak tanda dan gejala gagal jantung pada sirkulasi sistemik dan sirkulasi paru.Keadaan ini disebut Gagal Jantung Kongestif / CHF.Skema berikut menjelaskan terjadinya gagal jantung,sehingga menimbulkan manifestasi klinik dan masalah keperawatan.


C. Etiologi

1. Penyebab gagal jantung dikelompokkan sebagai berikut :
  • Disfungsi miocard ( kegagalan miocardial )
  • Beban tekanan berlebihan – pembebanan sistolik ( sistolik overload )
  • Beban volume berlebihan – pembebanan distolik ( distolik overload )
  • Peningkatan kebutuhan metabolik – peningkatan kebutuhan yang berlebihan ( demand overload )
  • Gangguan pengisian ( hambatan input )
2. Pencetus dari CHF adalah :
  • Hipertensi, infark, emboli paru, infeksi, aritmia, anemia, febris, stress emosional, kehamilan / persalinan, pemberian transfusi/infus


asuhan keperawatan pasien dengan Gagal Jantung Kongestif, asuhan keperawatan CHF


D. Tanda dan Gejala 

Gejala dan tanda yang timbul pada gagal jantung bergantung pada sisi yang mengalami gangguan.Gejala pada “ Forward Failure “ disebabkan oleh penurunan curah jantung.Sedangkan gejala pada “ Backward Forward “ berhubungan dengan kegagalan vetrikel dalam pengosongan sempurna yang menyebabkan gangguan aliran darah.
Pada gagal jantung kiri terjadi penurunan kemampuan pengosongan ventrikel kiri yang menyebabkan penurunan perfusi sistemik serta penumpukan darah di atriumkiri dan pembuluh pulmnal.Bendungan di pulmonal menyebabkan edema paru dengan gejala : takipnea,dyspnea,bunyi nafas abnormal.Pada gagal jantung kanan,efek penurunan fungsi ventrikel kanan terjadi penahanan darah di atrium kanan yang dapat menyebabkan bendungan vena sistemik,yang di manifestasikan edema perifer dan gejala disfungsi dan pembesaran organ.


E. Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan khusus yang dapat menegakkan diagnosis gagal jantung ( T.Santoso,Gagal Jantung 1989 ).Pemeriksaan laboratorium dibutuhkan untuk mengetahui sejauh mana gagal jantung telah mengganggu fungsi-fungsi organ lain seperti : hati,ginja dan lain-lain.
2. Radiologi
  • Bayangan hili paru yang tebal dan melebar, kepadatan makin ke pinggir berkurang
  • Lapangan paru bercak-bercak karena edema paru
  • Distensi vena paru
  • Hidrothorak
  • Pembesaran jantung,cardio-thoragic ratio meningkat
3. EKG
Dapat ditemukan kelainan primer jantung ( iskemik,hipertrofi ventrikel,gangguan irama ) dan tanda-tanda faktor pencetus akut ( infark miocard, emboli paru )
4. Ekokardiografi
Untuk deteksi gangguan fungsional serta anatomis yang menjadi penyebab gagal jantung
5. Kateterisasi Jantung
Pada gagal jantung kiri didapatkan ( LVEDP ) 10 mmHg atau Pulmonary Arterial Wedge Pressure > 12 mmHg dalam keadaan istirahat.Curah jantung lebih rendah dari 2,7 lt/mnt/m2 luas permukaan tubuh


F. Penatalaksanaan 
Menurut prioritas terbagi atas 4 kategori :

1. Memperbaiki kontraksi miocard/perfusi sistemik
  • Istirahat total/tirah baring dalam posisi semi fowler
  • Memberikan terapi oksigen sesuai dengan kebutuhan
  • Memberikan terapi medik : digitalis untuk memperkuat kontraksi otot jantung

2. Menurunkan volume cairan yang berlebihan
  • Memberikan terapi medik : diuretik untuk mengurangi cairan di jaringan
  • Mecatat intake dan output
  • Menimbang berat badan
  • Retriksi garam/diet rendah garam

3. Mencegah terjadinya komplikasi Post OP
  • Mengatur jadwal mobilisasi secara bertahap sesuai dengan keadaan klien
  • Mencegah terjadinya immobilisasi akibat tirah baring
  • Merubah posisi tidur
  • Memperhatikan efek samping pemberian medika mentosa : keracunan digitalis
  • Memeriksa atau memonitor EKG

4. Pengobatan pembedahan ( Komisurotomi )
Hanya pada regurgitasi aorta akibat infeksi aorta,reparasi katup aorta dapat dipertimbangkan.Sedangkan pada regurgitasi aorta akibat penyakit lainnya umumnya harus diganti dengan katup artifisial.Indikasi pada keluhan sesak nafas yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan symtomatik.Bla ekhokardiografi menunjukkan sistole ventrikel kiri 55 mm.

5. Pendidikan kesehatan yang menyangkut penyakit, prognosis, obat-obatan serta pencegahan kekambuhan
  • Menjelaskan tentang perjalanan penyakit dan prognosisnya
  • Menjelaskan tentang kegunaan obat-obatan yang digunakan, serta memberikan jadwal pemberian obat
  • Merubah gaya hidup / kebiasaan yang salah : merokok, stress, kerja berat, minum alkohol, makanan tinggi lemak dan kolesterol
  • Menjelaskan tentang tanda-tanda serta gejala yang menyokong terjadinya gagal jantung,terutama yang berhubungan dengan kelelahan, lekas capai, berdebar-debar, sesak nafas, anoreksia, keringat dingin
  • Menganjurkan untuk kontrol secara teratur walaupun tanpa gejala
  • Memberikan dukungan mental sehingga klien dapat menerima dirinya secara nyata/realitas akan dirinya baik

G. Pengkajian ( Pengkajian Fokus )

1. Aktifitas dan istirahat
  • Adanya kelelahan / exhaustion,insomnia,letargi,kurang istirahat
  • Sakit dada, dispnea pada saat istirahat atau saat beraktivitas
2. Sirkulasi
  • Riwayat hipertensi, kelainan katup, bedah jantung, endokarditis, anemia, septik syok, bengkak pada kaki, asites, takikardia
  • Disritmia, atrial fibrilasi, prematur ventrikular contraction
  • Bunyi S3 gallop,adanya bunyi CA, adanya sistolik atau diastolik, murmur, peningkatan JVP
  • Adanya nyeri dada, sianosis, pucat, ronchi, hepatomegali
3. Status mental
  • Cemas, ketakutan, gelisah, marah, iritabel / peka
  • Stress sehubungan dengan penyakitnya, sosial finansial
4. Eliminasi
  • Penurunan volume urine, urine yang pekat
  • Nocturia, diare dan konstipasi
5. Makanan dan cairan
  • Hilang nafsu makan, nausea,dan vomiting
  • Oedema di ekstremitas bawah, asites
6. Neurologi
  • Pusing ,pingsan, kesakitan
  • Lethargia, bingung, disorientasi, iritabel
7. Rasa nyaman
  • Sakit dada ,kronik / akut angina

8. Respirasi
9. Rasa aman
  • Perubahan status mental
  • Gangguan pada kulit / dermatitis
10. Interaksi sosial
  • Aktifitas sosial berkurang


H. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

  1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung
  2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemia pada miocard
  3. Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunnya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark
  4. Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolumia
  5. Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan extra selular berhubungan dengan penurunan perfusi organ ( renal ), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein

Terima kasih sahabat telah membaca artikel mengenai AsKep gagal jantung kongestif / CHF. Semoga artikel AsKep Gagal Jantung Kongestif ini bisa berguna serta bermanfaat.

Sunday, 16 October 2011

AsKep Pasien dengan Ventrikular Septal Defek ( VSD )

AsKep Pasien dengan Ventrikular Septal Defek ( VSD ).Setelah lama tidak memposting mengenai asuhan keperawatan maka sore hari ini kita akan sedikit memposting mengenai AsKep Pasien dengan Ventrikular Septal Defek ( VSD ) setelah askep yang terakhir tentang askep pasien dengan asma bronchiale dan juga askep klien dengan inkontinensia urin.


A.Pengertian
VSD adalah suatu keadaan dimana terdapat defek ( lubang ) abnormal pada sekat yang memisahkan ventrikel kanan dan kiri.
Terdapat dua jenis VSD :

1.      Membranous ( terjadi + 80 % )
2.      Muskular

B.Etiologi
Perkembangan Embrio
Gabungan ventrikuler dan membranous terjadi saat kehamilan umur 4 – 8 minggu. Perkembangan septum muskular tejadi saat ventrikel kana dan kiri membentuk sumbu ( fuse ) sedangkan septum membranous terjadi akibat pertumbuhan dari “ endocardial ciushius “.Selama proses pembentukan sekat ini dapat terjadi defek kongenital akibat gangguan pembentukan ini.


C.Tanda dan Gejala
Berhubungan dengan banyaknya aliran darah yang melewati lubang ( defek ) dan tahanan pulmonal dengan tanda dan gejala sebagai berikut :

1.VSD Kecil :
  • Tidak memperlihatkan keluhan.
  • Pertumbuhan perkembangan pada umumnya normal.
  • Bising jantung biasanya terdeteksi umur 2-6 bulan.
  • Pada auskultasi biasanya bunyi jantung normal.
  • Defek muskular ditemukan bising sistolik dini,pendek, dan mungkin didahului oleh early sistolik click.
  • Ditemukan bising pansistolik di sela iga 3 – 4 garis sternal kemudian menjalar sepanjang garis sternum kiri bahkan ke seluruh prekordium.

    2.VSD Sedang :
    Pada Bayi :
    • Sesak nafas pada waktu makan dan minum atau tidak mampu menghabiskan makanan dan minumnya.
    • Peningkatan berat badannya terhambat.
    • Seringkali menderita infeksi paru yang memerlukan waktu yang lama untuk sembuh.
    • Gagal jantung mungkin terjadi sekitar 3 bulan.
    • Fisik bayi tampak kurus dengan dyspnoe-takipnoe serta retraksi sela iga.
      Pada pasien besar dapat terjadi penonjolan dada.

      3.VSD Besar :
      • Gejala dan gagal jantung sering terlihat.
      • Pasien tampak sesak,pada saat istirahat kadang pasien biru,gagal tumbuh dan banyak keringat.
      • Sering terkadi infeksi saluran nafas bagian bawah.
      • Aktifitas prekardium meningkat.
      • Bising yang terdengar nada rendah,pansistolik dan tidak terlokalisir.
      • Gejala sering timbul setelah minggu ke 3 sampai dengan minggu ke 4 pada saat resistensi paru sudah menurun.

      4.VSD dengan resistensi paru tingi atau Sindrom Eisenmenger :
      • Terlihat dada menonjol akibat pembesaran ventrikel kanan yang hebat.
      • Terjadi pirau terbalik dari kanan ke kiri sehingga pasien sianotik.
      • Sering terjadi batuk dan infeksi saluran nafas berulang
      • Terjadi gangguan pertumbuhan yang makin hebat.
      • Terlihat adanya jari-jari tabuh.
      • Pada pemeriksaan auskultasi,bunyi jantung dengan split yang sempit.
      • Pada pemeriksaan palpasi,hepar terasa besar akibat bendungan sistemik.

      D. Pemeriksaan Penunjang
      1.EKG :
      Gambaran EKG pada pasien VSD dapat menggambarkan besar kecilnya defek dan hubungannya dengan hemodinamik yang terjadi :
      1. Pada VSD kecil,gambaran EKG biasanya normal,namun kadang-kadang di jumpai gelombang S yang sedikit dalam dihantaran perikardial atau peningkatan ringan gelombang R di V5 dan V6.
      2. Pada VSD sedang,EKG menunjukkan gambaran hipertrofi kiri.Dapat pula ditemukan hipertrofi ventrikel kanan,jika terjadi peningkatan arteri pulmonal.
      3. Pada VSD besar,hampir selalu ditemukan hipertrofi kombinasi ventrikel kiri dan kanan.Tidak jarang terjadi hipertrofi ventrikekl kiri dan kanan disertai deviasi aksis ke kanan ( RAD ).Defek septum ventrikel membranous inlet sring menunjukkan deviasi aksis ke kiri. ( LAD ).

      2.Gambaran Radiologi Thorax :
      1. Pada VSD kecil,memperlihatkan bentuk dan ukuran jantung normal dengan vaskularisasi peru normal atau sedikit meningkat.
      2. Pada VSD sedang,menunjukkan kardiomegali sedang dengan konus pulmonalis yang menonjol,hilus membesar dengan vaskularisasi paru meningkat.
      3. Pada VSD besar yang disertai hipertrofi pulmonal atau sindroma eisenmenger tampak konus pulmonal sangat menonjol dengan vaskularisasi paru yang meningkat di daerah hilus namun berkurang di perifer

      3.Echocardiografi :
      1. Pemeriksaan echocardiografi pada VSD meliputi M-Mode,dua dimensi doppler.Pada doppler berwarna dapat ditemukan lokasi,besar dan arah pirau.
      2. Pada defek yang kecil,M-Mode dalam batas normal sedangkan pada dua dimensi defek kecil sulit dideteksi.
      3. Pada defek sedang lokasi dan ukuran dapat ditentukan dengan ekokardigrafi dua dimensi,dengan M-Mode terlihat pelebaran ventrikel kiri atau atrium, kontraktilitas ventrikel masih baik.
      4. Pada defek besar,ekokardiografi dapat menunjukkan adanya pembesaran ke empat ruang jantung dan pelebaran arteri pulmonalis.

      4.Kateterisasi jantung :
      Kateterisasi jantung diperlukan pada :
      • -VSD kecil dan sedang yang disuga ada peningkatan tahanan paru.
      • -VSD besar dan atau gagal jantung.
      Tujuan kateterisasi jantung terutama untuk mengetahui :
      1. Jumlah defek.
      2. Evaluasi besarnya pirau.
      3. Evaluasi tahanan vaskular paru.
      4. Evaluasi beban kerja ventrikel kanan dan kiri.
      5. Mengetahui defek lain selain VSD.
      Kateterisasi jantung kanan untuk mengukur tekanan dan saturasi pada aliran darah pulmonal sedangkan kateterisasi jantung kiri untuk aliran darah sistemik.

      E.Komplikasi
      1. Gagal Jantung Kongestif.
      2. Hipertensi Arteri Pulmonalis.
      3. Bakterial Endokarditis.

      F.Terapi Medis
      1. Untuk mengatasi gagal jantung.
      2. Mengurangi gejala klinik.
      3. Mengurangi frekuensi infeksi saluran nafas.
      4. Untuk mencapai pertumbuhan normal.
      A.Pengobatan Konservatif :
      1. Oksigen.
      2. Digitalis.
      3. Diuretik.
      4. Dopaminergik.
      5. Vasodilator.
      6. Ace Inhibitor.
      B.Operatif Bedah :
      Paliatif : Pulmonary Arteri Banding ( PAB ),banding ( penyempitan ) pada cabang utama arteri pulmonal untuk mengurangi aliran darah pulmonal.Umumnya dilakukan pada anak dengan CHF.
      Penutup VSD ( prosedur pilihan ).
      Lubang kecil dengan melakukan jahitan langsung.
      Lubang besar dengan menggunakan tambahan “ dacron “
      Kedua prosedur diatas menggunakan mesin jantung paru,prosedur bedah dilakukan melalui atrium kanan dan katub trikuspid.
      Komplikasi post operasi meliputi VSD berulang dengan gangguan konduksi.


      G.Pengkajian ( Pengkajian Fokus )

      1. Pengkajian Umum
      1. Ukur barat badan,panjamg badan,lingkar kepala secara teratur.
      2. Gambarkan secara umum ukuran dan bentuk tubuh,postur saat istirahat,adanya edema dan lokasi.
      3. Bentuk wajah untuk melihat kelainan seperti : Syndrome Down.

      2. Pengkajian Pernafasan
      1. Gambarkan bentuk dada,simetris,adanya insisi,selang di dada atau penyimpa ngan lain.
      2. Gambarkan penggunaan otot-otot pernafasan tambahan : gerakan cuping hidung,retraksi sub sternal dan interkostal atau sub clavia.
      3. Tentukan rata-rata pernafasan dan keteraturannya.
      4. Auskultasi dan gambarkan bunyi nafas,kesamaan bunyi nafas,berkurangnya / tidak adanya udara nafas,stridor,crakles,wheezing.
      5. Gambarkan adanya tangisan bila tidak di intubasi.
      6. Bila diintubasi catat ukuran pipa endotrakeal,jenis dan setting ventilator.
      7. Ukur saturasi oksigen dengan menggunakan oximetri pulse dan analisa gas darah.

      3. Pengkajian Kardiovaskular
      1. Tentukan denyut jantung dan iramanya.
      2. Gambarkan bunyi jantung termasuk murmur.
      3. Tentukan poin maksimum impuls ( PMI ),poin dimana bunyi jantung terdengar paling keras.
      4. Tentukan tekanan darah.Sebutkan ekstremitas yang digunakan dan ukuran yang dipakai.Pemeriksaan tidak boleh lebih dari 1 kali.
      5. Kaji warna kuku,membran mukosa bibir.
      6. Gambarkan warna bayi atau anak ( mungkin dapat menunjukkan latar belakang masalah jantung,pernafasan atau darah ).Sianosis,pucat,jaundice, mouting,
      7. Gambarkan nadi perifer,pengisian kapiler ( kurang dari 3 detik )
      8. Pastikan monitor,parameter dan alarm posisi “On”

      4. Pengkajian gastrointestinal
      1. Tentukan adanya distensi abdomen,meningkatnya lingkar perut,kulit yang terang ( bright ),adanya eritema dinding abdomen,tampaknya peristaltik, bentuk usus yang dapat dilihat,status umbilikus..
      2. Tentukan adanya tanda-tanda regurgitasi,waktu yang berhubungan dengan pemberian makan,bila memakai NGT tentukan karakter,jumlah residu,warna, konsisten,PH vairan lambung.
      3. Palpasi area hati.
      4. Gambarkan bising usus,ada atau tidak ada.
      5. Gambarkan jumlah,warna,konsistensi feces.

      5. Pengkajian genitourinari
      1. Gambarkan bentuk abnormal dari genetalia..
      2. Gambarkan jumlah ( ditentukan oleh berat badan ), PH dan berat jenis untuk menggambarkan status cairan.
      3. Timbang berat badan ( tindakan yang paling sering dilakukan untuk mengkaji status cairan.

      6. Pengkajian neuromuskuloskeletal
      1. Gambarkan gerakan bayi : random,bertujuan,twitching,spontan,tingkat akti fitas dengan stimulasi,evaluasi saat kehamilan dan persalinan.
      2. Gambarkan sikap dan posisi bayi/anak : fleksi ayau ekstensi.
      3. Observasi reflek moro,sucking,babinski,plantar dan reflek lain yang diharapkan.
      4. Tentukan tingkat respon.
      5. Gambarkan adanya perubahan pada lingkar kepala ( bila ada indikasi ) ukuran, tahanan fontanel, dan garis sutura.
      6. Gambarkan respon pupil pada bayi yang usia kehamilannya lebih dari 32 minggu.

      7. Pengkajian kulit
      1. Gambarkan beberapa perubahan warna,daerah kemerahan,tanda iritasi,abrasi, khususnya dimana terdapat daerah penekanan oleh infus atau alat yang lain kontak dengan bayi/anak,juga observasi dan catat bahan yang digunakan untuk perawatan kulit.
      2. Tentukan tekstur dan turgor kulit : kering,lembut, dan lain-lain.
      3. Gambarkan adanya rash,luka kulit atau tanda lahir.
      4. Gambarkan kateter infus dan jarum yang digunakan dan observasi adanya tana infiltrasi.
      5. Gambarkan adanya infus parenteral : lokasi;arteri,vena perifer,umbilical, sentral.Jenis infus ( obat,saline,dektrose,elektrolit,lemak,TPN ).

      8. Temperatur
      1. Gambarkan suhu kulit dan axilla.
      2. Gambarkan hubungan dengan suhu lingkungan.

      FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN ADALAH :
      1. Faktor Prenatal
      1. Ibu menderita infeksi : rubella.
      2. Ibu alkoholisme.
      3. Umur ibu lebih dari 40 tahun.
      4. Ibu menderita penyakit diabetes yang memerlukan insulin.
      5. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.

      2. Faktor Genetik
      1. Anak yang lahir sebelumnya PJB.
      2. Ayah / ibu menderita PJB.
      3. Kelainan kromosom misalnya Sindrom Down.
      4. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.

      H.Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Timbul
      1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan bentuk lubang,disfungsi miokard.
      2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kongesti paru.
      3. Volume cairan berlebih berhubungan dengan akumulasi cairan ( edema ).
      4. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan tubuh berhubungan dengan nutrisi tidak adekuat.
      5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan suplai dan kebutuhan oksigen tidak seimbang / ketidakmampuan / kelemahan sekunder terhadap penurunan curah jantung.
      6. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, kongestif paru.
      7. Gangguan psikologis pada anak dan atau keluarga berhubungan dengan masa perawatan di rumah sakit.

      I.DAFTAR PUSTAKA
      • Carpenito,L.J ( 1999 )
      • Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan.E.d.2. ECG Jakarta.( 2000 )
      • Diagnosa keperawatan dan masalah kolaboratif Ed.8.EGC Jakarta
      • Doengoes,marylin E ( 1989 ) Nursing Care Plans.F.A Davis company USA Philadelphia

      Terima kasih sahabat telah membaca artikel mengenai askep pasien dengan Ventrikular Septal Defek ( VSD ) Semoga askep pasien dengan Ventrikular Septal Defek ( VSD ) bisa berguna serta bermanfaat.

      Tuesday, 13 September 2011

      AsKep Pasien dengan Asma Bronchiale

      AsKep Pasien dengan Asma Bronchiale.Setelah lama tidak memposting mengenai asuhan keperawatan maka sore hari ini kita akan sedikit memposting mengenai AsKep Pasien dengan Asma Bronchiale setelah sebelumnya juga memposting mengenai AsKep KLIEN DENGAN INKONTINENSIA URINE dan juga AsKep Pasien Dengan INFARK MIOKARD AKUT


      I.PENGERTIAN
      Asma adalah penyakit jalan nafas yang tidak dapat pulih yang terjadi karena spasme bdonkus disebabkan oleh berbagai penyebab misalnya alergen, infeksi, latihan. Spasme bronkus meliputi konstriksi otot polos, edema mukosa dan mukus berlebihan dengan perlengketan di jalan nafas pada tahap lanjut.
      (Hudak, 1997 : 565)

      Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronchi berspon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.
      ( Smeltzer, 2002 : 611)

      Asma adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel, terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi/peradangan dan hiperresponsif.
      (Reeves, 2001 : 48)

      II. PENYEBAB
      a. Faktor Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi)
         - Reaksi antigen-antibodi
         - Inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)
      b. Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non alergi)
         - Infeksi : parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal
         - Fisik : cuaca dingin, perubahan temperatur
         - Iritan : kimia
        - Polusi udara : CO, asap rokok, parfum
        - Emosional : takut, cemas dan tegang
        - Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.
          (Suriadi, 2001 : 7)

      III. TANDA DAN GEJALA 

      a. Stadium dini
      Faktor hipersekresi yang lebih menonjol
        - Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek
        - Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga, sifatnya hilang timbul
        - Whezing belum ada
        - Belum ada kelainan bentuk thorak
        - Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E
        - BGA belum patologis

      Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan
        - Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum
        - Whezing
        - Ronchi basah bila terdapat hipersekresi
        - Penurunan tekanan parsial O2

      b. Stadium lanjut/kronik
        - Batuk, ronchi
        - Sesak nafas berat dan dada seolah –olah tertekan
        - Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
        - Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest)
        - Thorak seperti barel chest
        - Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
        - Sianosis
        - BGA Pa O2 kurang dari 80%
        - Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri
        - Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik
        (Halim Danukusumo, 2000, hal 218-229)


      IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
         a. Spirometri (Tidal volume, kapasitas vital)
         b. Pemeriksaan sputum dan pemeriksaan eosinofil total (biasanya meningkat dalam darah dan sputum.
         c. Pemeriksaan alergi (Radioallergosorbent Test : RAST) : uji kulit, kadar Ig E total dan Ig E specifik   dalam sputum
        d. Foto thorak
        e. AGD

      V. PENGKAJIAN

      A. Pengkajian Primer
      - Airway
        Batuk kering/tidak produktif, wheezing yang nyaring, penggunaan otot –otot aksesoris pernapasan ( retraksi otot interkosta)
      - Breathing
      Perpanjangan ekspirasi dan perpendekan periode inspirasi, dypsnea, takypnea, taktil fremitus menurun pada palpasi, suara tambahan ronkhi, hiperresonan pada perkusi
      - Circulation
      Hipotensi, diaforesis, sianosis, gelisah, fatique, perubahan tingkat kesadaran, pulsus paradoxus > 10 mm

      B. Pengkajian Sekunder
      - Riwayat penyakit sekarang
      Lama menderita asma, hal yang menimbulkan serangan, obat yang pakai tiap hari dan saat serangan
      - Riwayat penyakit sebelumnya
      Riwayat alergi, batuk pilek, menderita penyakit infeksi saluran nafas bagian atas
      - Riwayat perawatan keluarga
      Adakah riwayat penyakit asma pada keluarga
      - Riwayat sosial ekonomi
      Lingkungan tempat tinggal dan bekerja, jenis pekerjaan, jenis makanan yang berhubungan dengan alergen, hewan piaraan yang dimiliki, dan tingkat stressor.


      VI. DIAGNOSA KEPERAWATAN (Tucker S. Martin, 1998 hal 242-243)

      a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b. d bronkospasme dan sekresi kental berlebihan
      Tujuan: pasien mempertahankan jalan nafas paten
      KriteriaHasil :
      - Bunyi nafas bersih
      - Kecepatan dan kedalaman pernafasan normal
      - Tak ada dispnea
      Intervensi:
      - Kaji sputum terhadap warna, kekentalan dan jumlah
      - Ausultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas tambahan misalnya: mengi, krekels, dan ronchi
      - Kaji kualitas dan kecepatan pernafasan
      - Kaji frekuensi dispnea: gelisah, ansietas distress pernapasan, penggunan otot bantu
      - Beri klien posisi pada ketinggian yang nyaman dan mengoptimalkan pernafasan : tinggikan kepala tempat tidur 60 – 90 derajat, sokong punggung dengan bantal
      - Berikan oksigen aliran rendah dengan kateter sesuai pesanan
      - Pertahankan/ bantu batuk efektif dan bantu untuk fisioterapi dada
      - Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari dan berikan air hangat
      - Berikan obat : epinefrin, aminofilin, antihistamin, ekspektoran, kortikosteroid adrenal
      - Nebulisasi isoproterenol atau kromolin

      b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru selama serangan akut
      Tujuan: pasien mempertahankan pola nafas efektif
      Kriteria hasil:
      - Sesak berkurang atau hilang, RR 18-24x/menit
      - Frekuensi, irama dan kedalaman pernafasan
      - Tidak ada retraksi otot pernapasan

      Intervensi:
      - Kaji tanda dan gejala ketidakefektifan pernapasan : dispnea, penggunaan otot-otot pernapasan
      - Pantau tanda- tanda vital dan gas- gas darah arteri
      - Baringkan pasien dalam posisi fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada
      - Berikan terapi oksigen sesuai pesanan
      - Pertahankan patensi jalan nafas
      - Berikan obat sesuai pesanan

      c. Cemas b.d krisis situasi, kesulitan bernafas, takut serangan ulang
      Tujuan : rasa cemas klien menjadi berkurang sampai hilang
      KH:
      - Klien tampak rileks
      - Mengungkapkan perasaan cemas berkurang
      - Tanda – tanda vital normal
      Intervensi;
      - Kaji tingkat kecemasan klien (ringan, sedang, berat)
      - Ukur tanda-tanda vital
      - Berikan dukungan emosional
      - Implementasikan teknik relaksasi : petunjuk imajinasi, relaksasi otot
      - Jelaskan informasi yang diperlukan klien tentang penyakitnya, perawatan dan pengobatannya
      - Ajarkan klien tehnik relaksasi (memejamkan mata, menarik nafas panjang)
      - Menganjurkan klien untuk istirahat


      DAFTAR PUSTAKA

      1. Hudak & Gallo, Keperawatan Kritis, Edisi VI,Vol I, Jakarta, EGC, 2001
      2. Tucker S. Martin, Standart Perawatan Pasien, Jilid 2, Jakarta, EGC, 1998
      3. Reeves. Keperawatan Medikal Bedah. Ed 1. Jakarta : Salemba Medika; 2001
      4. Halim Danukusantoso, Buku Saku Ilmu Penyakit Paru, Jakarta, Penerbit Hipokrates , 2000
      5. Smeltzer, C . Suzanne,dkk, Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol 1. Jakarta , EGC, 2002
      6. Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Jakarta, EGC, 1997


      Terima kasih sahabat telah membaca artikel mengenai : AsKep Pasien dengan Asma Bronchiale

      Tuesday, 16 August 2011

      AsKep KLIEN DENGAN INKONTINENSIA URINE

      Bismillah...

      Masih dalam nuansa puasa Ramadhan 1432 H nih..sudah hari keberapa yah...Alhamdulillah sudah 16 hari kita berpuasa.Jadi masih setengahnya lagi nih Ramadhannya.Semoga nanti kita sampai akhir dan tetap menjalankan puasa dan memcapai kemenangan nani di satu Syawal 1432 H nanti aamiin...aamiin.

      Setelah kemarin alhamdulillah mendapatkan Dapat Award Lagi dan juga memposting tentang Google UpDate Page Rank kembali dan alhamdulillah juga mbah Google kasih PR1 blog ini.Maka Malam ini bertepatan dengan malam 17 Ramadhan malam Nuzulul Qur'an akan posting masalah keperawatan kembali.Karena sudah lama tidak memposting masalah keperawatan.

      Kita mulai saja sahabat mengenai AsKep KLIEN DENGAN INKONTINENSIA URINE



      A. Definisi
      Inkontinensia urine adalah pelepasan urine secara tidak terkontrol dalam jumlah yang cukup banyak.
      Sehingga dapat dianggap merupakan masalah bagi seseorang.

      B. Klasifikasi

      Inkontinensia urine di klasifikasikan menjadi 3
      ( Charlene J.Reeves at all )

      1. Inkontinensia Urgensi
      Adalah pelepasan urine yang tidak terkontrol sebentar setelah ada peringatan ingin melakukan urinasi. Disebabkan oleh aktivitas otot destrusor yang berlebihan atau kontraksi kandung kemih yang tidak terkontrol.

      2. Inkontinensia Tekanan
      Adalah pelepasan urine yang tidak terkontrol selama aktivitas yang meningkatkan tekanan dalam lubang intra abdominal. Batuk, bersin, tertawa dan mengangkat beban berat adalah aktivitas yang dapat menyebabkan inkontinensia urine.

      3. Inkontinensia Aliran Yang Berlebihan ( Over Flow Inkontinensia )
      Terjadi jika retensi menyebabkan kandung kemih terlalu penuh dan sebagian terlepas secara tidak terkontrol, hal ini pada umumnya disebabkan oleh neurogenik bladder atau obstruksi bagian luar kandung kemih.


      C. Etiologi
      Inkontinensia urine pada umumnya disebabkan oleh komplikasi dari penyakit seperti infeksi saluran kemih, kehilangan kontrol spinkter dan perubahan tekanan yang tiba-tiba pada abdominal.


      D. Manifestasi klinik
      a. Urgensi
      b. Retensi
      c. Kebocoran urine
      d. Frekuensi


      E. Patofisiologi
      Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh karena komplikasi dari penyakit infeksi saluran kemih, kehilangan kontrol spinkter atau terjadinya perubahan tekanan abdomen secara tiba-tiba. Inkontinensia bisa bersifat permanen misalnya pada spinal cord trauma atau bersifat temporer pada wanita hamil dengan struktur dasar panggul yang lemah dapat berakibat terjadinya inkontinensia urine. Meskipun inkontinensia urine dapat terjadi pada pasien dari berbagai usia, kehilangan kontrol urinari merupakan masalah bagi lanjut usia.


      F. Pemeriksaan Diagnosa
      1. Pengkajian fungsi otot destrusor
      2. Radiologi dan pemeriksaan fisik ( mengetahui tingkat keparahan / kelainan dasar panggul )
      3. Cystometrogram dan elektromyogram


      G. Therapi
      a. Urgensi
      Cream estrogen vaginal, anticolenergik, imipramine (tofranile)
      Diberikan pada malam hari
      Klien dianjurkan untuk sering buang air kecil

      b. Over flow inkontinensia
      Farmakologis prazocine (miniprise) dan cloridabetanecol (urecholine)
      Diberikan untuk menurunkan resistensi bagian luar dan meningkatkan kontraksi kandung kemih.




      H. Askep inkontinensia urine

      a. Pengkajian
      Dalam pengkajian ditanyakan kapan inkontinensia urine mulai muncul dan hal-hal yang berhubungan dengan gejala inkontinensia :
      1. Berapa kali inkontinensia terjadi ?
      2. Apakah ada kemerahan, lecet, bengkak pada daerah perineal ?
      3. Apakah klien mengalami obesitas ?
      4. Apakah urine menetes diantara waktu BAK, jika ada berapa banyak ?
      5. Apakah inkontinensia terjadi pada saat-saat yang bisa diperkirakan seperti pada saat batuk, bersin tertawa dan mengangkat benda-benda berat ?
      6. Apakah klien menyadari atau merasakan keinginan akan BAK sebelum inkontinensia terjadi ?
      7. Berapa lama klien mempunyai kesulitan dalam BAK / inkontinensia
      urine ?
      8. Apakah klien merasakan kandung kemih terasa penuh ?
      9. Apakah klien mengalami nyeri saat berkemih ?
      10. Apakah masalah ini bertambah parah ?
      11. Bagaimana cara klien mengatasi inkontinensia ?

      b. Pemeriksaan fisik
      1. Inspeksi
      Adanya kemerahan, iritasi / lecet dan bengkak pada daerah perineal.
      Adanya benjolan atau tumor spinal cord
      Adanya obesitas atau kurang gerak

      2. Palpasi
      Adanya distensi kandung kemih atau nyeri tekan
      Teraba benjolan tumor daerah spinal cord

      3. Perkusi
      Terdengar suara redup pada daerah kandung kemih.


      I. Diagnosa Keperawatan


      1. Kecemasan
      2. Gangguan bodi image
      3. Defisit pengetahuan
      4. Kelemahan ( kurang aktivitas )
      5. Gangguan Harga Diri
      6. Gangguan Integritas Kulit


      J. Rencana Tindakan
      1. Menjaga kebersihan kulit, kulit tetap dalam keadaan kering, ganti sprei atau pakaian bila basah.
      2. Anjurkan klien untuk latihan bladder training
      3. Anjurkan pemasukkan cairan 2-2,5 liter / hari jika tidak ada kontra indikasi.
      4. Anjurkan klien untuk latihan perineal atau kegel’s exercise untuk membantu menguatkan kontrol muskuler ( jika di indikasikan )
      Latihan ini dapat dengan berbaring, duduk atau berdiri
      a. Kontraksikan otot perineal untuk menghentikan pengeluaran urine
      b. Kontraksi dipertahankan selama 5-10 detik dan kemudian mengendorkan atau lepaskan
      c. Ualngi sampai 10 kali, 3-4 x / hari

      5. Cek obat-obat yang diminum ( narkotik, sedative, diuretik, antihistamin dan anti hipertensi ), mungkin berkaitan dengan inkontinensia.
      6. Cek psikologis klien.


      Terima kasih sahabat telah membaca Artikel : AsKep KLIEN DENGAN INKONTINENSIA URINE

      SUMBER PUSTAKA

      1. Charlene J. Reeves at all. Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : Salemba Medica, 2001.
      2. Susan Martin Tucker at all. Patient Care Standarts Collaborative Planning & Nursing Interventions, Seventh Edition, St. Louis Baltimore Berlin : Mosby, 2000.
      3. Luckmann’s, Suzanne E, Tatro. Care Principles and practise of Medical Surgical Nursing.
      4. Christensen Kocknow. Adult Health Nursing, Third edition, St. Louis Baltimore, Boston : Mosby, 1999.
      5. Susan Puderbangh, Susan W. Nursing Care Planning Guides, for Adult In Acute, Extended and Home Care Settings. WB. Saunders Company, 2001.

      Saturday, 23 July 2011

      AsKep Pasien Dengan INFARK MIOKARD AKUT

      Assalamu'alaikum...

      Sahabat-sahabat semua...sore ini kita akan posting tentang Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan INFARK MIOKARD AKUT.

      Pasien dengan diagnosis INFARK MIOKARD AKUT bila tidak tertangani dengan segera dan baik akan menimbulkan kematian.Hal yang pastinya kita takuti semua kan...(bagi yang takut mati,memang siapa yang tidak takut mati yah sob...)
      Padahal kita semuanya kan yang masih punya nafas,jantung berdetak,suatu saat nanti pasti akan mengalami kematian juga dan hanya Allah Ta'ala yang tahu "jadwal" kita nantinya.Yang mesti kita siapkan justru apa yang kita bawa untuk bekal kita nanti.
      Alangkah indahnya nikmat Sehat itu sahabat.

      Walah-walah..malah kemana-mana.Kita sudahi intermezzo,langsung saja ke TKP ya Sob...


      ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFARK MIOKARD AKUT

      A. Pengertian
      Infark Miokard Infark (IMA) adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu.Penyebabnya adalah penyempitan atau sumbatan pembuluh darah koroner.
      Untuk lebih mengetahui lebih lanjut tentang sumbatan pembuluh darah koroner silakan baca di AsKep Penyakit Jantung Koroner


      B. Etiologi
      Umumnya IMA didasari oleh adanya aterosklerotik pembuluh darah koroner.Nekrosis miokard akut hampir selalu terjadi akibat penyumbatan total arteri koronaria oleh trombus yang terbentuk pada plak aterosklerosis yang tidak stabil,juga sering mengikuti ruptur plak pada arteri koroner dengan stenosis ringan ( 50-60% )

      Kerusakan miokard terjadi dari endokardium ke epikardium,menjadi komplit dan irreversibel dalam 3 – 4 jam.Secara morfologis,IMA dapat terjadi secara transmural atau subendocardial.IMA transmural mengenai seluruh dinding miokard dan terjadi pada daerah distribusi suatu arteri koroner.Sebaliknya pada IMA subendocardial nekrosis terjadi hanya pada bagian dalam dinding ventrikel


      C. Patofisiologi
      Dua jenis kelainan yang terjadi pada IMA adalah komplikasi hemodinamik dan aritmia.Segera setelah terjadi IMA daerah miokard setempat akan memperlihatkan penonjolan sistolik ( diskinesia ) dengan akibat penurunan ejection fraction,isi sekuncup ( stroke volume ) dan peningkatan volume akhir diastolik ventrikel kiri.Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri tinggi dengan akibat tekanan atrium kiri juga naik.Peningkatan tekanan atrium di atas 25 mmHg yang lama akan menyebabkan transudasi cairan ke jaringan interstisium paru ( gagal jantung ).

      Pemburukan hemodinamiknini bukan saja disebabkan karena daerah infar,tetapi juga daerah iskemik di sekitarnya.Miokard yang masih relatif baik akan mengadakan kompensasi,khususnya dengan bantuan rangsangan adrenergik,untuk mempertahan kan curah jantung,tetapi dengan akibat peningkatan kebutuhan oksigen miokard.Kompensasi ini jelas tidak akan memadai bila daerah yang bersangkutan juga mengalami iskemia atau bahkan fibrotik.Bila infark kecil dan miokard yang harus berkompensasi masih normal,pemburukan hemodinamik akan minimal.

      Sebaliknya bila infark luas dan miokard yang harus berkompensasi sudah buruk akibat iskemia atau infark lama,tekanan akhir diastolik ventrikel kiri akan naik dan gagal jantung terjadi.Sebagai akibat IMA sering terjadi perubahan bentuk serta ukuran ventrikel kiri dan tebal jantung ventrikel baik yang terkena infark maupun yang non infark.Perubahan tersebut menyebabkan remodeling ventrikel yang nantinya akan mempengaruhi fungsi ventrikel dan timbulnya aritmia.

      Bila IMA makin tenang fungsi jantung akan membaik walaupun tidak diobati.Hal ini disebabkan karena daerah-daerah yang tadinyaiskemik mengalami perbaikan.Daerah-daerah diskinetik Akibat IMA akan menjadi akinetik,karena terbentuk jaringan parut yang kaku.Miokard yang sehat dapat pula mengalami hipertrofi.Sebaliknya, perburukan hemodinamik akan terjadi bila iskemik berkepanjangan atau infark meluas.Terjadinya penyulit mekanis seperti rupture septun ventrikel,regurgitasi mitral akut dan aneurisma ventrikel akan memperburuk faal hemodinamik jantung.

      Aritmia merupakan penyulit IMA tersering dan terjadi terutama pada menit-menit atau jam-jam pertama setelah serangan.Hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan masa refrakter,daya hantar rangsangan dan kepekaan terhadap rangsangan.Sistem saraf otonom juga berpean besar terhadap terjadinya aritmia.Pasien IMA inferior umumnya mengalami peningkatan tonus parasimpatis dengan akibat kecenderungan bradiaritmia meningkat,sedangkan peningkatan tonus simpatis pada IMA inferior akan mempertinggi kecenderungan fibrilasi ventrikel dan perluasan infark.





      D. Tanda dan Gejala

      Keluhan yang khas ialah nyeri dada retrosternal,seperti diremas-remas,ditekan,ditu suk,panas atau ditindih barang berat .Nyeri dada dapat menjalar ke lengan ( umumnya kiri) bahu,leher,rahang,bahkan ke punggung dan epigastrium.Nyeri dada berlangsung lebih lama dari angina pektoris dan tak responsif dengan nitrogliserin.Kadang-kadang terutama pada pasien dengan diabetes dan orang tua,tidak ditemukan nyeri sama sekali.Nyeri dapat disertai perasaan mual ,muntah , sesak ,pusing ,keringat dingin, berdebar-debar atau sinkope.

      Pasien sering tampak ketakutan.Walaupun IMA dapat merupakan manifestasi pertama penyakit jantung koroner namun bila anamnesis dilakukan teliti hal ini sering sebenarnya sudah didahului keluhan-keluhan angina, perasaan tidak enak di dada atau epigastrium.

      Kelainan pada pemeriksaan fisik tidak ada yang spesifik dan dapat normal.Dapat ditemui BJ yakni S2 yang pecah,paradoksal dan irama gallop.Adanya krepitasi basal menunjukkan adanya bendungan paru-paru.Takikardia,kulit yang pucat,dingin dan hipotensi ditemkan pada kasus yang relatif lebih berat,kadang-kadang ditemukan pulsasi diskinetik yang tampak atau berada di dinding dada pada IMA inferior.


      E. Pemeriksaan Penunjang

      1. EKG :
      adanya gelombang patologik disertai dengan peninggian segmen ST yang konveks dan diikuti gelombang T yang negatif dan simetrik.Yang terpenting ialah kelainan Q yaitu menjadi lebar (lebih dari 0,04 sec) dan dalam ( Q/R lebih dari ¼ )

      2. Laboratorium :
      Creatinin fosfakinase (CPK).Iso enzim CKMB meningkat.Hal ini terjadi karena kerusakan otot,maka enzim intra sel dikeluarkan ke dalam aliran darah.Normal 0-1 mU/ml.Kadar enzim ini sudah naik pada hari pertama ( kurang lebih 6 jam sesudah serangan ) dan sudah kembali ke nilai normal pada hari ke 3.SGOT (Serum Glutamic Oxalotransamine Test ) normal kurang dari 12 mU/ml.Kadar enzim ini biasanya baru naik pada 12 – 48 jam sesudah serangan dan akan kembali normal pada hari ke 7 dan 12.Pemeriksaan lainnya adalah ditemukannya peninggian LED,lekositosis ringan,kadang-kadang hiperglikemia ringan.

      3. Kateterisasi

      Angiografi koroner untuk mengetahui derajat obstruksi

      4. Radiologi
      Hasil radiologi tidak menunjukkan secara spesifik adanya infark miokardium, hanya menunjukkan pembesaran dari jantung

      5. Ekhokardiografi

      Menilai fungsi dari ventrikel kiri,gerakan jantung abnormal


      F. Diagnosis Banding

      1. Angina Pektoris tidak stabil / insufisiensi koroner akut
      2. Diseksi aorta ( nyeri dada umumnya sangat hebat,dapat menjalar ke perut dan punggung )
      3. Kelainan saluran cerna bagian atas ( hernia diafragmatika,esofagitis refluks )
      4. Kelainan lokal dinding dada ( nyeri bersifat lokal,bertambah dengan tekanan atau perubahan posisi tubuh )
      5. Kompresi saraf ( terutama C8,nyeri pada distribusi saraf tersebut )
      6. Kelainan intra abdominal ( kelainan akut,pankreatitis dapat menyerupai IMA


      G. Komplikasi
      - Aritmia
      - Bradikardia sinus
      - Irama nodal
      - Gangguan hantaran atrioventrikuler
      - Gangguan hantaran intraventrikuler
      - Asistolik
      - Takikardia sinus
      - Kontraksi atrium prematur
      - Takikardia supraventrikuler
      - Flutter atrium
      - Fibrilasi arium
      - Takikardia atrium multifokal
      - Kontraksi prematur ventrikel
      - Takikardia ventrikel
      - Takikardia idioventrikuler
      - Flutter dan fibrilasi ventrikel
      - Renjatan kardiogenik
      - Tromboembolisme
      - Perikarditis
      - Aneurisme ventrikel
      - Regurgitasi mitral akut
      - Ruptur jantung dan septum


      H. Terapi Medis
      1. Trombolitik
      2. Pemasangan stent
      3. Ancillary drug terapi seperti aspirin,heparinisasi,nitrate
      4. CABG



      I. Pengkajian ( Pengkajian Fokus )
      1. Pengkajian

      2. Kualitas chest pain
      Berdentum-dentum,tertikam,rasa menyesakkan nafas atau seperti tertindih barang berat

      3. Lokasi dan radiasi
      Retrosternal dan prekordil kiri,radiasi menurun ke lengan kiri bawah dan pipi,dagu,gigi,daerah epigastrik dan punggung

      4. Faktor pencetus
      Mungkin terjadi pada saat istirahat atau selama kegiatan

      5. Lamanya dan faktor-faktor yang meringankan
      Berlangsung lama,berakhir lebih dari 30 menit,tidak menurun dengan istirahat, perubahan posisi ataupun minum nitrogliserin

      6. Tanda dan gejala
      Cemas,gelisah,lemah sehubungan dengan keringatan,dispnoe,pening,tanda-tanda respon vasomotor meliputi : mual,muntah,pingsan,kulit dingin dan lembab, cegukan dan stress gastrointestinal,suhu menurun

      7. Pemeriksaan fisik :
      Mungkin tidak ada tanda kecuali dalam tanda-tandanya gagalnya ventrikel atau kardiogenik shok terjadi.TD normal,meningkat atau menurun,takipnea,mula-mula pain reda kemudian kembali normal,suara jantung S3,S4 galop menunjukkan disfungsi ventrikel,sistolik murmur,M.Papilarri disfungsi,LV disfungsi terhadap suara jantung menurun dan perikordial friksin rub,pulmonary crackles,urin out put menurun, vena jugular amplitudonya meningkat ( LV disfungsi ),RV disfungsi,amplitudo vena jugular menurun,edema perifer,hati lembek

      8. Parameter hemodinamik
      Penurunan PAP,PCPN,SVR,CO/CI

      9. RV Infraction
      Peningkatan RAP,SVR,penurunan PAP,PCWP,CO/CI



      J. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

      1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemia miokard akibat sumbatan arteri koroner
      2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan supai oksigen miokard dengan kebutuhan tubuh
      3. Kecemasan ( uraikan tingkatannya ) berhubungan dengan ancaman/perubahan kesehatan status sosio-ekonomi;ancaman kematian
      4. ( Resiko tinggi ) penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi,irama dan konduksi listrik jantung;penurunan preload/peningkatan tahanan vaskular sistemik;infark/diskinetik miokard,kerusakan struktural seperti aneurisme ventrikel dan kerusakan septum
      5. ( Resiko tinggi ) perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan/sum batan aliran darah koroner
      6. ( Resiko tinggi ) kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal;peningkatan natrium/retensi air;peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma
      7. Kurang pengetahuan ( tentang kondisi dan kebutuhan terapi ) berhubungan dengan kurang terpajan atau salah persepsi terhadap informasi tentang fungsi jantung / implikasi penyakit jantung dan perubahan status kesehatan yang akan datang


      K. Rencana Keperawatan

      No Diagnosa Kep Tujuan Rencana Tindakan Keperawatan

      1. Nyeri akut b/d iskemia miokard akibat sumbatan arteri koroner Nyeri berkurang - Pantau nyeri ( lokasi, karakteristik,durasi, intensitas ),catat setiap respon verbal/non verbal, perubahan hemodinamik
      - Berikan lingkungan yang tenang dan tunjukkan perhatian yang tulus kepada pasien
      - Bantu melakukan tehnik relaksasi ( nafas dalam / perlahan, distraksi, visualisasi, bimbingan imajinasi )
      - Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi :
      - Antiangina spt : Nitro-Bid, Nitrostat,Nitro-Dur )
      - Beta Bloker spt : atenolol ( tenormin ) pindolol ( vis ken ) propanolol ( inderal )
      - Analgetik spt : morfin, meperidin ( demerol )
      - Penyekat saluran kalsium spt : verapamil ( calan ), diltiazem ( prokardia )


      2. Intoleransi aktifitas b/d ketidak seimbangan suplai oksigen miokard dengan kebutuhan tubuh - Pantau HR,dan perubahan TD sebelum,selama, dan sesudah aktifitas sesuai dengan indikasi
      - Tingkatkan istirahat, batasi aktifitas
      - Anjurkan pasien untuk menghindari peningkatan tekanan abdominal
      - Batasi pengunjung sesuai dengan keadaan klinis pasien
      - Bantu aktifitas sesuai dengan keadaan pasien dan jelaskan pola pening katan aktifitas bertahap
      - Kolaborasi pelaksanaan program rehabilitasi pasca serangan IMA

      3. Kecemasan ( uraikan tingkatannya) b/d ancaman/perubahan kesehatan - status sosio – ekonomi; ancaman kematian - Pantau respon verbal dan non verbal yang menunjukkan kecemasan pasien
      - Dorong pasien untuk mengespresikan perasaan marah,cemas/takut terhadap situasi krisis yang dialaminya
      - Orientasikan pasien dan orang terdekat dengan prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
      - Kolaborasi pemberian agen terapeutik anti cemas / sedativa sesuai indikasi (diazepam,valium,flurazepam,dal-mane,lorazepam,ativan )
      -

      4. (Resiko tinggi) penurunan curah jantung b/d perubahan frekuensi,irama, dan konduksi listrik jantung; penurunan preload/ peningkatan tahanan vaskular sistemik;infark/ diskinetik miokard, kerusakan struktural spt aneurisme ventrikel dan kerusakan septum - Pantau TD,HR,nadi,periksa dalam keadaan baring,duduk, dan berdiri ( bila mungkin )
      - Auskultasi adanya S3,S4 dan adanya murmur
      - Auskultasi bunyi nafas
      - Berikan makanan dalam porsi kecil dan mudah dikunyah
      - Kolaborasi pemberian oksigen sesuai dengan kebutuhan pasien
      - Pertahankan paensi IV – lines/ heparin lok sesuai dengan indikasi
      - Bantu pemasangan/ pertahankan patensi pacu jantung bila digunakan

      5. (Resiko Tinggi ) perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan/ sumbatan aliran darah koroner - Pantau perubahan kesadaran / keadaan mental yang tiba-tiba seperti bingung,letargi,gelisah syok
      - Pantau tanda-tanda sianosis, kulit dingin/lembab dan catat kekuatan nadi perifer
      - Pantau fungsi pernafasan ( frekuensi,kedalaman,kerja otot aksesori,bunyi nafas )
      - Pantau fungsi gastrointestinal ( anoreksia,penurunan bising usus,mual,muntah,distensi abdomen dan konstipasi )
      - Pantau asupan cairan dan haluran urine,catat berat jenis
      - Kolaborasi pemeriksaan laboratorium ( gas darah,BUN kreatinin,elektrolit )
      - Kolaborasi pemberian agen terapeutik yang diperlukan seperti : Heparin / natrium warfarin ( couma-din ) , simetidin (tagament),ranitidin (zantac),antasida,trombolitik (t-PA,streptokinase)

      6. ( Resiko tinggi ) kelebihan volume cairan b/d penurunan perfusi ginjal;peningkatan natrium/retensi air ;peningkatan tekanan hidrostatik / penurunan protein plasma - Auskultasi bunyi nafas terhadap adanya krekels
      - Pantau adanya distensi vena jugularis,edema anasarka
      - Hitung keseimbangan cairan dan timbang berat badan tiap hari bila tidak ada kontra indikasi
      - Pertahankan asupan cairan total 2000 ml/24 jam dalam batas toleransi jantung
      - Kolaborasi pemberian diuretik sesuai indikasi ( furosemide / lasix,hidralazin/apresoline, spironolakton/hidrolakton/ aldactone )
      - Pantau kadar kalium sesuai indikasi

      7. Kurang pengetahuan ( tentang kondisi dan kebutuhan terapi ) b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi tentang fungsi jantung dan perubahan status kesehatan yang akan datang - Kaji tingkat pengetahuan pasien/orang terdekat dan kemampuan/kesiapan belajar pasien
      - Berikan informasi dalam berbagai variasi proses pembelajaran. ( tanya jawab,leaflet,instruksi ringan, aktifitas kelompok )
      - Berikan penekanan penjelasan tentang faktor resiko,pembata san diet/aktifitas,obat dan gejala yang memerlukan perhatian cepat/darurat
      - Peringatkan untuk menghin dari aktifitas isometrik,manu ver valsava dan aktifitas yang memerlukan tangan diposisi kan di atas kepala
      - Jelaskan program peningkatan aktifitas bertahap ( contoh : duduk,berdiri,jalan,kerja ringan,kerja sedang)



      L. Discharge Planning ( Rencana Pemulangan )



      Daftar Pustaka

      Carpenito ( 2000),Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktek Klinis,Ed.6,EGC, Jakarta
      Doenges at al ( 2000 ),Rencana Asuhan Keperawatan,Ed.3,EGC,Jakarta
      Price & Wilson (1995),Patofisiologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,Ed,4,EGC Jakarta
      Soeparman & Waspadi(1990),Ilmu Penyakir Dalam,BP FKUI,Jakarta

      Terima kasih telah membaca artikel : AsKep Infark Miokard Akut

      Monday, 4 July 2011

      AsKep PENYAKIT JANTUNG KORONER

      AsKep PENYAKIT JANTUNG KORONER.Bismillah...Setelah kemarin kita belajar dan memposting tentang AsKep Angina Pektoris hari ini saya mencoba memposting berkaitan dengan Kesehatan jantung lainnya yaitu mengenai AsKep Penyakit Jantung Koroner.Penyakit jantung koroner yang satu ini termasuk terbanyak dari berbagai macam penyakit jantung yang diderita oleh manusia.Dan Prevalensinya lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada wanita.

      Langsung saja ke tujuan awal yaitu AsKep Penyakit Jantung Koroner
      A. Pengertian.

      Penyakit jantung koroner / penyakit arteri koroner (penyakit jantung artherostrofik) merupakan suatu manifestasi khusus dan arterosclerosis pada arteri koroner. Plaque terbentuk pada percabangan arteri yang ke arah aterion kiri, arteri koronaria kanan dan agak jarang pada arteri sirkomflex. Aliran darah ke distal dapat mengalami obstruksi secara permanen maupun sementara yang di sebabkan oleh akumulasi plaque atau penggumpalan.

      Sirkulasi kolateral berkembang di sekitar obstruksi arteromasus yang menghambat pertukaran gas dan nutrisi ke miokardium. Kegagalan sirkulasi kolateral untuk menyediakan supply oksigen yang adekuat ke sel yang berakibat terjadinya penyakit arteri koronaria, gangguan aliran darah karena obstruksi tidak permanen (angina pektoris dan angina preinfark) dan obstruksi permanen (miocard infarct).
      Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Dep.kes, 1993.

      B. Resiko dan insidensi

      Penyakit arteri koronaria merupakan masalah kesehatan yang paling lazim dan merupakan penyebab utama kematian di USA. Walaupun data epidemiologi menunjukan perubahan resiko dan angka kematian penyakit ini tetap merupakan tantangan bagi tenaga kesehatan untuk mengadakan upaya pencegahan dan penanganan. Penyakit jantung iskemik banyak di alami oleh individu berusia yang berusia 40-70 tahun dengan angka kematian 20 %.
      (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Dep.kes, 1993).

      askep penyakit jantung koroner, asuhan keperawatan jantung koroner, penyakit jantung koroner

      Faktor resiko yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner dapat di golongkan secara logis sebagai berikut:

      1. Sifat pribadi Aterogenik.
      Sifat aterogenik mencakup lipid darah, tekanan darah dan diabetes melitus. Faktor ini bersama-sama berperan besar dalam menentuak kecepatan artero- genensis (Kaplan & Stamler, 1991).

      2. Kebiasaan hidup atau faktor lingkungan yang tak di tentukan semaunya.
      Gaya hidup yang mempredisposisi individu ke penyakit jantung koroner adalah diet yang terlalu kaya dengan kalori, lemak jenuh, kolesterol, garam serta oleh kelambanan fisik, penambahan berat badan yang tak terkendalikan, merokok sigaret dan penyalah gunaan alkohol.
      (Kaplan & Stamler, 1991).

      3. Faktor resiko kecil dan lainnya.
      Karena faktor resiko yang di tetapkan akhir-akhir ini tidak tampak menjelaskan keseluruhan perbedaan dalam kematian karena penyakit jantung koroner, maka ada kecurigaan ada faktor resiko utama yang tak diketahui bernar-benar ada.
      Berbagai faktor resiko yang ada antara lain kontrasepsi oral, kerentanan hospes, umur dan jenis kelamin (Kaplan & Stamler, 1991).


      C. Patofisiologi

      Penyakit jantung koroner dan miocardial infark merupakan respons iskemik dari miokardium yang di sebabkan oleh penyempitan arteri koronaria secara permanen atau tidak permanen. Oksigen di perlukan oleh sel-sel miokardial, untuk metabolisme aerob di mana Adenosine Triphospate di bebaskan untuk energi jantung pada saat istirahat membutuhakn 70 % oksigen. Banyaknya oksigen yang di perlukan untuk kerja jantung di sebut sebagai Myocardial Oxygen Cunsumption (MVO2), yang dinyatakan oleh percepatan jantung, kontraksi miocardial dan tekanan pada dinding jantung.

      Jantung yang normal dapat dengan mudah menyesuaikan terhadap peningkatan tuntutan tekanan oksigen dangan menambah percepatan dan kontraksi untuk menekan volume darah ke sekat-sekat jantung. Pada jantung yang mengalami obstruksi aliran darah miocardial, suplai darah tidak dapat mencukupi terhadap tuntutan yang terjadi. Keadaan adanya obstruksi letal maupun sebagian dapat menyebabkan anoksia dan suatu kondisi menyerupai glikolisis aerobic berupaya memenuhi kebutuhan oksigen.

      Penimbunan asam laktat merupakan akibat dari glikolisis aerobik yang dapat sebagai predisposisi terjadinya disritmia dan kegagalan jantung. Hipokromia dan asidosis laktat mengganggu fungsi ventrikel. Kekuatan kontraksi menurun, gerakan dinding segmen iskemik menjadi hipokinetik.

      Kegagalan ventrikel kiri menyebabkan penurunan stroke volume, pengurangan cardiac out put, peningkatan ventrikel kiri pada saat tekanan akhir diastole dan tekanan desakan pada arteri pulmonalis serta tanda-tanda kegagalan jantung.

      Kelanjutan dan iskemia tergantung pada obstruksi pada arteri koronaria (permanen atau semntara), lokasi serta ukurannya. Tiga menifestasi dari iskemia miocardial adalah angina pectoris, penyempitan arteri koronarius sementara, preinfarksi angina, dan miocardial infark atau obstruksi permanen pada arteri koronari
      (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Dep.kes, 1993).


      D. Mekanisme hipertensi meningkatkan resiko

      Bila kebanyakan pembacaan tekanan diastole tetap pada atau di atas 90 mmHg setelah 6-12 bulan tanpa terapi obat maka orang itu di anggap hipertensi dan resiko tambahan bagi penyakit jantung koroner.

      Secara sederhana di katakan peningkatan tekanan darah mempercepat arterosklerosis dan arteriosklerosis sehingga ruptur dan oklusi vaskuler terjadi sekitar 20 tahun lebih cepat daripada orang dengan normotensi. Sebagian mekanisme terlibat dalam proses peningkatan tekanan darah yang mengkibatkan perubahan struktur di dalam pembuluh darah, tetapi tekanan dalam beberpa cara terlibat langsung. Akibatnya, lebih tinggi tekanan darah, lebih besar jumlah kerusakan vaskular.


      E. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Penyakit Jantung Koroner

      1. Pengkajian

      a. Aktivitas dan istirahat
      Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur (mungkin di dapatkan Tachycardia dan dispnea pada saat beristirahat atau pada saat beraktivitas).

      b. Sirkulasi
      • Mempunyai riwayat IMA, Penyakit jantung koroner, CHF, Tekanan darah tinggi, diabetes melitus.
      • Tekanan darah mungkin normal atau meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time, disritmia.
      • Suara jantung, suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan kontraktilitasnya.
      • Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang tidak berfungsi.
      • Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachy atau bradi cardia).
      • Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal.
      • Edema: Jugular vena distension, odema anasarka, crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung.
      • Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku.

      c. Eliminasi
      Bising usus mungkin meningkat atau juga normal.

      d. Nutrisi
      Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan turgor kulit, berkeringat banyak, muntah dan perubahan berat badan.

      e. Hygiene perseorangan
      Dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saat melakukan aktivitas.

      f. Neuro Sensori
      Nyeri kepala yang hebat, Changes mentation.

      g. Kenyamanan
      • Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan beristirahat atau dengan nitrogliserin.
      • Lokasi nyeri dada bagian depan substerbnal yang mungkin menyebar sampai ke lengan, rahang dan wajah.
      • Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat yang pernah di alami.
      • Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah yang menyeringai, perubahan pustur tubuh, menangis, penurunan kontak mata, perubahan irama jantung, ECG, tekanan darah, respirasi dan warna kulit serta tingkat kesadaran.

      h. Respirasi
      Dispnea dengan atau tanpa aktivitas, batuk produktif, riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged.

      i. Interaksi sosial
      Stress, kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor, emosi yang tak terkontrol.

      j. Pengetahuan
      Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi, perokok.

      k. Studi diagnostik
      • ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dri iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis.
      • Enzym dan isoenzym pada jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
      • Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia.
      • Whole blood cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan.
      • Analisa gas darah: Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis ata akut.
      • Kolesterol atau trigliserid: mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
      • Chest X ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau aneurisma ventrikiler.
      • Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
      • Exercise stress test: Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu stress/ aktivitas.

      2. Diagnosa keperawatan dan rencana tindakan

      a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria.
      Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri dada, menunjukan adanya penurunan tekanan dan cara berelaksasi.

      Rencana :
      1. Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
      2. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran).
      3. Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.
      4. Ciptakan suasana lingkungan yangtenang dan nyaman.
      5. Ajarkan dan anjurkan pada pasien untuk melakukan tehnik relaksasi.
      6. Kolaborasi dalam : Pemberian oksigen dan obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesic)
      7. Ukur tanda vital sebelum dan sesudah dilakukan pengobatan dengan narkosa.
      b. Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.
      Tujuan : Setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunnjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.

      Rencana :
      1. Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
      2. Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
      3. Anjurkan pada pasien agar tidak “ngeden” pada saat buang air besar.
      4. Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
      5. Tunjukan pada pasien tentang tanda-tanda fisik bahwa aktivitas melebihi batas.

      c. Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
      Tujuan : Tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.

      Rencana :
      1. Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan).
      2. Kaji kualitas nadi.
      3. Catat perkembangan dari adanya S3 dan S4.
      4. Auskultasi suara nafas.
      5. Dampingi pasien pada saat melakukan aktivitas.
      6. Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
      7. Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia.

      d. Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
      Tujuan : Selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
      Rencana :
      1. Kaji adanya perubahan kesadaran.
      2. Inspeksi adanya pucat, cyanosis, kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
      3. Kaji adanya tanda Homans (pain in calf on dorsoflextion), erythema, edema.
      4. Kaji respirasi (irama, kedalam dan usaha pernafasan).
      5. Kaji fungsi gastrointestinal (bising usus, abdominal distensi, constipasi).
      6. Monitor intake dan out put.
      7. Kolaborasi dalam: Pemeriksaan ABG, BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.

      e. Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.
      Tujuan : Tidak terjadi kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.

      Rencana :
      1. Auskultasi suar nafas (kaji adanya crackless).
      2. Kaji adanya jugular vein distension, peningkatan terjadinya edema.
      3. Ukur intake dan output (balance cairan).
      4. Kaji berat badan setiap hari.
      5. Najurkan pada pasien untuk mengkonsumsi total cairan maksimal 2000 cc/24 jam.
      6. Sajikan makan dengan diet rendah garam.
      7. Kolaborasi dalam pemberian deuritika.


      DAFTAR PUSTAKA

      Barbara C long. (1996). Perawatan Medical Bedah. Pajajaran Bandung.

      Carpenito J.L. (1997). Nursing Diagnosis. J.B Lippincott. Philadelpia.

      Carpenito J.L. (1998.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8 EGC. Jakarta.

      Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.

      Hudack & Galo. (1996). Perawatan Kritis. Pendekatan Holistik. Edisi VI, volume I EGC. Jakarta.

      Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran. Media aesculapius Universitas Indonesia. Jakarta.

      Kaplan, Norman M. (1991). Pencegahan Penyakit Jantung Koroner. EGC Jakarta.

      Lewis T. (1993). Disease of The Heart. Macmillan. New York.

      Marini L. Paul. (1991). ICU Book. Lea & Febriger. Philadelpia.

      Morris D. C. et.al, The Recognation and treatment of Myocardial Infarction and It’sComplication.

      Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. (1993). Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Krdiovaskuler. Departemen Kesehatan. Jakarta.

      Tabrani. (1998). Agenda Gawat Darurat. Pembina Ilmu. Bandung.

      (1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Penyakit Jantung. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya.

      Terima kasih telah membaca artikel mengenai : Askep PENYAKIT JANTUNG KORONER.Dan semoga Askep penyakit jantung koroner ini bisa berguna dan bermanfaat sobat semuanya...
       

      Kesehatan untuk semua Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger